Home Tentang Kami Hubungi Kami Links FAQ Forum
Follow Us


JADWAL DIKLAT
Tuesday, September 9, 2014
Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) sesuai dengan misinya akan terus...
KIPRAH
Tuesday, April 1, 2014
Setelah berjalan tujuh bulan program ODP II LPPI yang dimulai...
LIPUTAN KEGIATAN
Tuesday, October 14, 2014
Bekerja sama dengan LPPI, Bank Papua menyelenggarakan Diklat Pola Pembiayaan...
Wednesday, October 1, 2014
Gaya kepemimpinan dan manajerial seorang pemimpin sangatlah penting untuk diperhatikan....
Tuesday, September 30, 2014
Penetapan harga secara efisien untuk nasabah merupakan hal yang penting....
Monday, August 25, 2014
Sebanyak 38 peserta dari 15 BPR telah mengikuti Pelatihan Anti...
 
Peran Lembaga Keuangan Mikro dalam Pemberdayaan UMKM di Indonesia
Friday, December 2, 2011 | Admin

Hasil penelitian Bank Indonesia sampai dengan Desember 2010 terhadap usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) menunjukkan bahwa baru 10 lembaga keuangan bank-bank umum dan Bank Perkreditan Rakyat serta 6 lembaga keuangan non bank yang melakukan pembiayaan terhadap UMKM. Padahal, UMKM merupakan potensi kredit dimana usaha mikro mencapai sekitar 52 juta unit, usaha kecil sekitar 500 ribu unit, dan usaha menengah sekitar 40 ribu unit.

Hingga September 2011, jumlah UMKM yang telah akses pembiayaan baru sekitar 17,2% yaitu sekitar 9 juta dibandingkan dengan jumlah UMKM pada tahun 2010 yang mencapai sekitar 52 juta unit. Diketahui pula bahwa kredit UMKM terhadap total kredit perbankan mencapai Rp. 457,8 triliun dengan jenis penggunaan didominasi oleh kredit modal kerja untuk sektor perdagangan, industri olahan dan pertanian.

Dilihat dari sisi jumlah usaha, penyerapan tenaga kerja dan kemampuan untuk terus eksis, UMKM telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian rakyat. Selain itu UMKM mampu menjadi penolong dan penopang kebangkitan ekonomi dari krisis yang terjadi di Indonesia. Oleh karenanya, UMKM layak mendapat perhatian dan pengembangan lebih jauh agar semakin berdaya di Indonesia.

Selasa, 29 November 2011 lalu, LPPI menggelar seminar bertajuk peran lembaga keuangan mikro dalam pemberdayaan UMKM di Indonesia. Seminar diikuti oleh sekitar 130 peserta dari bank komersial, BPR, Perbarindo, koperasi simpan pinjam, PT. Permodalan Nasional Madani, Inkopsyah BMT, Certif, Kementerian Koperasi dan UKM dan lainnya.

Seminar yang diadakan oleh Pusat Kajian dan Pengembangan Keuangan Mikro (PKPKM) LPPI ini adalah untuk melihat bagaimana peran lembaga keuangan mikro dalam pemberdayaan UMKM utamanya dari segi pembiayaan agar UMKM mendapat akses pembiayaan untuk pengembangan usaha. Lembaga keuangan mikro merupakan lembaga yang dianggap mampu mencukupi kebutuhan modal UMKM karena mampu menyesuaikan dengan karakteristik UMKM yang cenderung dianggap unbankable. Dari segi pembiayaan, LKM mampu memberikan kredit tanpa jaminan dan menjadi lembaga perpanjangan tangan lembaga keuangan formal.

Ketua Komite Nasional Pemberdayaan Keuangan Mikro Indonesia Kusmuljono memandu acara seminar ini. Menghadirkan 3 pembicara dengan 3 topik berbeda yang saling terkait. Yaitu peran perbankan dalam pembiayaan usaha mikro, kecil dan menengah oleh Presiden Direktur Bank Ganesha Abdul Salam, Kebijakan pemerintah dalam pengembangan industri kecil dan menengah oleh Deputi Menteri Bidang Pengembangan SDM Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharram, serta mapping dan penilaian lembaga keuangan mikro di Indonesia oleh CEO MICRA Indonesia Nagwa Kamal.

Presiden Direktur Bank Ganesha Abdul Salam yang menjalankan bisnis pembiayaan ekonomi mikro menjabarkan strategi perbankan dalam menjangkau LKM berdasarkan pengalaman bank Ganesha. Pertama, harus fokus pada target pasar ke segmen tertentu sebagaimana bank Ganesha mencontohkan yang memfokuskan diri kepada pedagang pasar basah, menjangkau sentra bisnis disekelilingnya, dan membangun sistem kemitraan dalam radius 10 km. Kedua, mengintrodusir produk sesuai kebutuhan. Ketiga, menambah jumlah kantor cabang pembantu. Keempat, menambah tenaga dan kompetensi SDM perbankan UMKM. Kelima, pengembangan sistem IT untuk pengelolaan yang efisien dan pelayanan prima. Keenam, pengembangan linkage program dengan BPR dan KSP yang sehat untuk menjangkau usaha mikro.

Narasumber kedua yaitu Agus Muharram menitikberatkan materi pada pengembangan LKM dengan penguatan permodalan Koperasi dan UMKM. Menurut agus, koperasi simpan pinjam sangat potensial dikembangkan sebagai LKM yang profesional. Model pengembangan LKM lewat KSP menciptakan keberlanjutan pembiayaan usaha UMKM.

Implementasi dari model pengembangan LKM lewat KSP dapat menjadi proses pembelajaran untuk meningkatkan akses permodalan usaha UMKM. Dengan menciptakan iklim kondusif dan menjamin keamanan bisnis, koperasi dapat menjadi media efektif bagi pengembangan UMKM. Langkah yang ditempuh adalah penguatan permodalan koperasi. Hal ini didasari atas adanya kelemahan UMKM dalam akses bantuan permodalan yang mensyaratkan adanya kolateral/penjaminan, kurangnya informasi produk-produk perbankan, dan hambatan persyaratan-persyaratan perbankan. Sedangkan bank memiliki kendala dalam menjangkau UMKM yaitu kurangnya informasi akan potensi UMKM, jaringan pelayanan perbankan, keahlian perbankan dalam pengembangan UMKM, dan regulasi kehati-hatian (prudential) perbankan.

Pembicara terakhir adalah Nagwa Kamal yang merupakan CEO dari MICRA Indonesia, lembaga konsultan rating agency untuk lembaga keuangan mikro sekaligus technical provider keuangan mikro. Hasil riset MICRA yang dilakukan pada isu linkage program terlihat ada keengganan bank-bank untuk mulai melakukan linkage program. Menurut Nagwa, melalui pemetaan dan rating oleh pihak ketiga akan memudahkan bank untuk melakukan linkage program.

Catatan penting dari hasil-hasil riset yang dilakukan lembaganya menunjukkan bahwa 2 LKM di satu lokasi bisa mempunyai hasil yang berbeda, misalnya dari segi NPL. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan manajemen LKM itu sangat mempengaruhi performance. Rating menjadi sangat relevan karena penilaian LKM harus dilakukan karena ada dana pihak ketiga yang dikumpulkan. Oleh karenanya Nagwa menyarankan agar LKM membenahi diri dalam manajemen operasinya sehingga akan menjadi sarana yang efektif baik bagi bank maupun UMKM.

Selain itu Nagwa menambahkan bahwa penggunaan teknologi menjadi penting dan bisa menjadi solusi mengatasi jarak terutama wilayah Indonesia Timur. Sebagaimana pengalamannya di Kenya, Nagwa menuturkan “Penggunaan mobile banking di LKM sudah sangat luar biasa. Selain itu ada ATM yang bisa dipakai di ATM manapun dengan menggunakan id dan password yang sama.” Ujarnya. Nagwa berharap Indonesia akan mampu seperti ini sebagai inovasi untuk menjangkau UMKM yang merupakan pasar potensial bagi perbankan Indonesia. (adm/ga)

 

Comment(s)
No Comment

Reply
Name*
Email
Comment*
Confirmation*
Enter code above :

If you can't read code, click
  
*Field Required