Home Tentang Kami Hubungi Kami Links FAQ Forum
Follow Us


JADWAL DIKLAT
Wednesday, March 12, 2014
Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) sesuai dengan misinya akan terus...
KIPRAH
Tuesday, April 1, 2014
Setelah berjalan tujuh bulan program ODP II LPPI yang dimulai...
LIPUTAN KEGIATAN
Tuesday, March 25, 2014
Sebanyak 15 bank telah mengirimkan para calon pemimpin mereka untuk...
Friday, March 7, 2014
Bekerja sama dengan ICDIF-LPPI, Bank BTN selama tiga hari (7,...
Friday, January 17, 2014
Pusat Kajian dan Pengembangan Keuangan Mikro (PKM) LPPI bekerja sama...
Saturday, January 11, 2014
Memasuki tahun 2014 Bank Saudara mempunyai satu tujuan utama yaitu...
 
DARI KAMI
Learning Organization Otoritas Jasa Keuangan

Assalamu'alaikum Wr. Wb. Salam sejahtera bagi kita semua. 

Pemerintah dan DPR telah menyepakati pembentukan sebuah Otoritas Jasa Keuangan berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang telah diundangkan pada 22 November 2011 lalu. 

Menteri Keuangan, Agus D.W. Martowardojo, selaku Ketua Panitia Seleksi dalam pidatonya dalam seminar mengenai OJK yang diselenggarakan oleh LPPI dan Perbanas di Hotel Pullman 13 Februari lalu, menyampaikan bahwa kehadiran OJK diharapkan dapat berperan penting dalam mengantisipasi dan menghadapi setiap potensi krisis yang mengancam perekonomian bangsa. Melalui OJK, kegiatan di sektor jasa keuangan dapat terselenggara secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel, mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil, dan mampu melindungi kepentingan konsumen serta masyarakat.

Agar kegiatan pengaturan dan pengawasan dapat dilakukan secara lebih efektif, OJK membutuhkan bangunan organisasi yang kuat, pimpinan yang solid, dan dukungan tenaga-tenaga SDM yang mempunyai kompetensi di bidang pengawasan. Setelah pembangunan organisasi OJK pekerjaan lainnya adalah merancang arsitektur pengembangan SDM. Arsitektur pengembangan SDM dengan skema yang baik akan menunjang pencapaian visi dan misi OJK. Salah satunya melalui program pendidikan dan pelatihan pegawai dalam rangka meningkatkan kompetensi SDM yang sesuai dengan jenjang karier yang telah ditetapkan. Dengan skema tersebut pula akan tercipta budaya kerja baru yang sesuai dengan tujuan didirikannya OJK.

OJK hanya akan sukses dan bertahan hidup di tengah-tengah perubahan eksternal yang cepat apabila para pegawainya mampu mengadaptasi perubahan-perubahan tersebut. Dalam konteks ini, OJK harus menjadikan dirinya learning organization. Artinya, suatu organisasi yang senantiasa memberikan kesempatan dan mendorong para pegawainya untuk selalu mengkinikan diri dengan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi mutakhir melalui pendidikan dan pelatihan yang berjenjang dan berkelanjutan bagi para pegawai tersebut.

Undang-Undang OJK mengharuskan pimpinan dan anggota dewan komisioner memiliki integritas dan kompetensi. Hal ini berlaku juga bagi seluruh perangkat organisasi OJK. Integritas dan kompetensi ibarat dua sisi sekeping mata uang. Dengan integritas, pimpinan dan anggota OJK akan memiliki arah dan perilaku yang baik. Dengan kompetensi, mereka akan menjadi lebih mudah dalam melaksanakan tugas karena memiliki kemampuan berdasarkan pengalaman, keilmuan, atau keahlian yang memadai di sektor keuangan.

Kompetensi dijabarkan dalam empat aspek, yaitu memahami lingkungan yang dihadapi oleh lembaga jasa keuangan yang diawasi, memahami gambaran besar mengenai lembaga jasa keuangan, memahami teknis operasional lembaga yang diawasi dan pengawasannya, dan memiliki kesadaran mengenai pentingnya independensi dan keterkaitan unsur pengawasan serta koordinasi dengan lembaga lain.

Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) mendefinisikan kompetensi meliputi pengetahuan, keahlian, dan integritas. Pengetahuan dapat diukur dari perjalanan karir seseorang dan keahlian dapat terlihat dari hasil kerja yang telah dihasilkan selama karir pekerjaan yang bersangkutan. Adapun integritas adalah yang paling sulit dideteksi sebab integritas akan dipengaruhi oleh lingkungan dan dapat berubah.

OJK juga harus membangun kerja sama dengan asosiasi profesi baik perbankan maupun lembaga jasa keuangan lainnya. Hal ini ditujukan untuk mendapatkan informasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan sikap/etika para pengurus bank/lembaga jasa keuangan, sekaligus memberikan masukan untuk meningkatkan kompetensi/pengetahuan pejabat pengatur/pengawas itu sendiri sehingga kegiatan pengaturan dan pengawasan dapat lebih efektif.

Melalui proses rekrutmen dan penilaian, termasuk di dalamnya seleksi promosi dan kenaikan jabatan, yang dikerjakan OJK bersama dengan lembaga yang independen dan terpercaya, harapan akan bertemunya visi dan misi OJK dengan sumber daya yang tepat akan memberi peluang lebih besar akan terwujudnya OJK sebagai learning organization.

Menilik banyaknya pekerjaan rumah bagi OJK, LPPI sebagai lembaga pengembangan perbankan dan jasa keuangan yang independen mendukung peningkatan kualitas SDM OJK melalui pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Apalagi dalam kurun waktu lima tahun setelah OJK berjalan, harus ada persiapan dan kaderisasi calon pemimpin OJK.

Dukungan LPPI terhadap pembangunan arsitektur pengembangan SDM dan OJK sebagai learning organization selaras dengan visi dan misi LPPI, yaitu meningkatkan kualitas sumber daya manusia perbankan dan jasa keuangan melalui pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap serta mendukung pengembangan industri perbankan yang sehat dan berkualitas. Dengan kata lain, dengan adanya arsitektur pengembangan SDM OJK yang tepat sasaran, OJK akan bekerja sebagai institusi pengawas yang sanggup dan siap menghadapi tantangan dan perubahan perekonomian yang dinamis.

Wassalam,

 

Subarjo Joyosumarto

Direktur Utama LPPI