Home Tentang Kami Hubungi Kami Links FAQ Forum
Follow Us


JADWAL DIKLAT
Thursday, July 3, 2014
Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) sesuai dengan misinya akan...
KIPRAH
Tuesday, April 1, 2014
Setelah berjalan tujuh bulan program ODP II LPPI yang dimulai...
LIPUTAN KEGIATAN
Friday, May 30, 2014
Selama tiga hari, 21 – 23 Mei 2014, PKM-LPPI menyelenggarakan...
Tuesday, March 25, 2014
Sebanyak 15 bank telah mengirimkan para calon pemimpin mereka untuk...
Friday, March 7, 2014
Bekerja sama dengan ICDIF-LPPI, Bank BTN selama tiga hari (7,...
Friday, January 17, 2014
Pusat Kajian dan Pengembangan Keuangan Mikro (PKM) LPPI bekerja sama...
 
DARI KAMI
Sertifikasi Manajemen Risiko bagi Bankir

Monday, August 1, 2011 | Admin

Ass. Wr. Wb., Salam Sejahtera.

Pada editorial bulan Juni 2011 dijelaskan bahwa industri perbankan merupakan industri yang berbasis kepada kepercayaan (trust), kehati-hatian (prudential) dan kepatuhan (compliance). Pada editorial Agustus ini, kami menurunkannya dalam pengelolaan manajemen risiko.

Manajemen risiko harus dikelola melalui tata kelola yang baik untuk menjaga munculnya risiko-risiko dari dinamika dunia perbankan yang semakin berkembang dan semakin kompleks. Menghindari atau meminimalisir risiko pada sebuah bank menjadi bentuk pelayanan bank kepada nasabah dimana trust dan prudential akan diperoleh. Manajemen risiko dilakukan oleh pengurus atau pejabat bank yang memiliki kompetensi atau keahlian di bidang manajemen risiko. Untuk itu diperlukan syarat minimum dan standarisasi kompetensi serta keahlian bagi pengurus dan pejabat tersebut. Untuk mencapai syarat minimum dan standarisasi kompetensi serta keahlian diperlukan adanya bukti atau sertifikasi kompetensi di bidang manajemen risiko.

Pernyataan dari Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman D. Hadad terkait sertifikasi manajemen risiko yang kami kutip (vivanews.com, 6/7 & 7/12) mengatakan bahwa siapapun yang mengurusi manajemen risiko haruslah seseorang yang berkompeten dan dibuktikan dengan kepemilikan sertifikat agar ketika mengelola bank mempunyai kompetensi yang memadai. Pernyataaan ini disampaikannya atas keputusan bank sentral yang belum mengubah keputusan tentang sertifikasi manajemen risiko yang wajib dilakukan dengan batas waktu 3 Agustus 2011. Memiliki Sertifikat Manajemen Risiko juga merupakan salah satu aspek penilaian faktor kompetensi sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia tentang Penilaian Kemampuan dan Kepatutan (fit and proper test).

Hingga saat ini, diketahui bahwa ada sekitar 13.000 pegawai bank yang belum memiliki sertifikasi manajemen risiko. Ada beberapa alasan yang mengemuka diantaranya adalah mahalnya biaya sertifikasi. Biaya ujian sertifikasi dianggap mahal, apalagi jika melihat tingkatan sertifikasi yang berjenjang dan mencapai 5 level.

Dalam hal sertifikasi ini, ada beberapa poin dapat dilihat. Pertama, sertifikasi manajemen risiko merupakan bagian penting dari manajemen bank terhadap sumber daya manusianya yang merupakan pelayan bagi nasabah bank. Artinya kompetensi pegawai bank diharapkan seoptimal mungkin bekerja dan menggunakan dasar kemampuannya dalam manajemen risiko untuk peningkatan kualitas banknya dalam pelayanan terhadap nasabah. Sehingga permintaan dari bank sentral atas sertifikasi pegawai bank dengan batas waktu 3 Agutus 2011 tentu harus segera direspon. Apalagi Bank Indonesia memberi kesempatan kepada bank untuk membuat action plan 1 tahun kedepan mengenai pemenuhan penyelesaian sertifikasi ini. Pemenuhan permintaan terhadap apa yang dimintakan oleh Bank Indonesia merupakan bentuk compliance bank terhadap regulator.

Kedua, dari sisi materi sertifikasi yang menjadi fokus utama pengurus atau pejabat bank. Kebutuhan utama dari output sertifikasi ini adalah kompetensi pegawai bank dari sisi knowledge dan skill. Dalam Peraturan Bank Indonesia no. 7/25/PBI 2005 tentang sertifikasi manajemen risiko bagi pengurus dan pejabat bank umum yang telah mengalami beberapa perubahan menyebutkan bahwa BI mewajibkan program sertifikasi manajemen risiko. Kewajiban sertifikasi ini berlaku bagi setiap pengurus dan pejabat bank sampai dengan jenjang jabatan dan struktur organisasi empat tingkat dibawah direksi. Artinya materi uji kompetensi harus betul-betul base practice kebutuhan pegawai dalam melaksanakan pekerjaan.

Survei yang dilakukan oleh Biro Riset InfoBank pada tahun 2008 (infobank.com) terhadap sejumlah bankir masih menjadi cermin perhatian. Hasil survei menunjukkan mayoritas bankir setuju program sertifikasi manajemen risiko. Argumennya bahwa sertifikasi manajemen risiko akan menambah wawasan dan pengetahuan bankir tentang manajemen risiko dan peningkatan kemampuan bankir dalam mengelola risiko di banknya.

Selain itu, mendapat pengakuan di komunitas perbankan global atau internasional menjadi ekspektasi para bankir yang mengikuti sertifikasi. Bankir juga berharap sertifikasi bisa menjadi alat (tools) untuk membendung masuknya bankir asing. Terlebih menghadapi tahun 2015 dimana ASEAN Economy Community akan terlaksana dan free movement of labour terjadi. Tentu hal ini harus bisa diakomodir oleh penyelenggara sertifikasi untuk membendung bankir asing dengan betul-betul menghasilkan bankir bersertifikasi manajemen risiko yang diakui di komunitas global.

LPPI sebagai mitra strategis Bank Indonesia mendukung upaya peningkatan kompetensi bankir dalam manajemen risiko. Melalui program pendidikan dan pelatihan yang dirancang dan dikelola oleh staff LPPI yang terdiri dari pengajar dan praktisi juga certified trainer, LPPI telah menyusun progam pendidikan dan pelatihan terkait manajemen risiko.

Sampai saat ini LPPI memiliki 12 program pendidikan dan pelatihan manajemen risiko dimana 4 program manajemen risiko khusus mengenai sertifikasi manajemen risiko dari level 1 s.d level 4. Ada 7 program untuk level top management termasuk didalamnya program sertifikasi manajemen risiko level 1 – 4. 5 program lainnya adalah untuk level middle management dengan topik manajemen risiko pasar, kredit, operasional, credit risk modeling dan business continuity plan for banking operation.

Esensi materi dari seluruh program ini berkaitan dengan manajemen risiko berdasarkan Basel II dan regulasi perbankan. Pendidikan dan pelatihan ini dirancang untuk semua level bankir dari level bawah hingga top management. Kelebihan dari program sertifikasi manajemen risiko yang dimiliki LPPI adalah adanya persiapan pemantapan (try out) sehari menjelang ujian bagi peserta kursus.  

Program pendidikan dan pelatihan ini merupakan bekal bagi pengurus dan pejabat bank untuk meningkatkan kompetensi di bidang manajemen risiko. Hasil akhirnya adalah bankir yang kompeten dan mampu menjawab kebutuhan dinamika dunia perbankan dalam tata kelola risiko bank.

Wassalam,

Muljana Soekarni

Direktur Bidang I LPPI

-      Pusat Kajian dan Pengembangan Manajemen Risiko
-      Pusat Kajian dan Pengembangan Keuangan Mikro
-      Divisi Riset dan Pengembangan Program
-      Divisi Konsultasi dan Assessment Center