LPPI Jalan Kemang Raya, No. 35, Jakarta Selatan
×
Foto : Virtual Seminar Syariah ke-107 yang digelar Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Jumat (10/4/2026) dengan tema "Hijrah Finansial"

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

13 April 2026 15:30 | Oleh : Romualdus Udika

Industri perbankan syariah nasional terus menunjukkan tren pertumbuhan positif meski masih menghadapi tantangan penetrasi pasar yang belum optimal. Dalam perhelatan Virtual Seminar Syariah ke-107 yang digelar Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Jumat (10/4/2026), seruan untuk melakukan "hijrah finansial" mengemuka sebagai solusi menciptakan sistem keuangan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Hadir sebagai pembicara kunci (keynote speaker), Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin menekankan bahwa hijrah finansial bukan sekadar perpindahan instrumen keuangan, melainkan sebuah transformasi peradaban menuju sistem yang lebih adil dan etis.

"Hijrah finansial adalah upaya mengembalikan ruh keadilan dalam ekonomi. Ini adalah jawaban rasional atas kegagalan sistem konvensional yang sering memicu krisis akibat spekulasi berlebihan," ujar Ma’ruf Amin.

Indonesia saat ini memiliki basis modal sosial yang kuat dengan populasi Muslim mencapai lebih dari 240 juta jiwa. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga akhir 2025, total aset perbankan syariah telah menyentuh angka Rp870 triliun.

Meskipun laju pertumbuhan rata-rata sektor ini berada di kisaran 9% hingga 12% per tahun—lebih tinggi dibandingkan industri perbankan nasional secara keseluruhan—pangsa pasarnya baru menyentuh angka 7,5%.

Korelasi dengan Tren Global ESG

Lebih lanjut, Ma’ruf Amin menjelaskan bahwa prinsip dasar syariah seperti pelarangan riba, gharar (ketidakpastian), dan maysir (perjudian) merupakan fondasi keadilan yang universal. Hal ini sejalan dengan pandangan para ulama seperti Imam Al-Ghazali dan Ibnu Khaldun yang menegaskan bahwa keadilan adalah syarat mutlak keberlangsungan sebuah sistem ekonomi.

Secara global, nilai industri keuangan syariah dunia saat ini telah melampaui USD 4 triliun. Karakteristik syariah yang berbasis pada sektor riil, prinsip bagi hasil (risk-sharing), dan transparansi dinilai sangat relevan dengan tren global sustainable finance serta prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

"Kita harus mengubah cara pandang: dari sekadar 'sesuai syariah' menjadi 'solusi masa depan'," tegas Ma'ruf.

Untuk mempercepat proses hijrah finansial dan meningkatkan penetrasi pasar di Indonesia, setidaknya diperlukan empat pilar strategis:

  • Penguatan literasi untuk mengedukasi masyarakat mengenai nilai universal syariah.
  • Inovasi produk yang kompetitif dan menjawab kebutuhan zaman.
  • Kolaborasi antar lembaga, termasuk sinergi antara perbankan, fintech syariah, dan regulator.
  • Keteladanan para pemimpin dalam mengadopsi sistem ekonomi yang adil.

Melawan Stigma

Sementara dalam sambutan pembuka Virsem LPPI #107, Direktur Utama LPPI Heru Kristiyana menyoroti kontradiksi antara potensi besar Indonesia dengan realitas penetrasi pasar saat ini. Dengan populasi Muslim mencapai lebih dari 240 juta jiwa, perbankan syariah diharapkan menjadi tulang punggung ekonomi nasional.

Heru mengakui secara jujur bahwa tantangan pengembangan industri ini bukan lagi soal regulasi, melainkan hambatan psikologis di masyarakat

"Kita harus jujur mengakui bahwa tantangan terbesar bukan hanya pada sisi regulasi atau produk, tetapi juga pada persepsi masyarakat. Sebagian masyarakat masih memandang perbankan syariah hanya sebagai sistem yang bersifat religius atau sekadar perubahan terminologi dari sistem konvensional," tegas Dirut LPPI.

Beliau menambahkan bahwa di balik label syariah, terdapat prinsip ekonomi universal yang mencakup stabilitas, keadilan, dan keberlanjutan yang relevan bagi siapa pun. Fenomena "hijrah finansial" pun dipandang sebagai proses perubahan menuju sistem yang tidak hanya mengejar profit, tetapi juga nilai moral dan dampak sosial.

Di tengah tekanan inflasi dan ketegangan geopolitik global, Heru juga menekankan keunggulan sistem risk-sharing (berbagi risiko) melalui mekanisme kemitraan seperti mudharabah dan musyarakah.

"Sistem keuangan syariah menekankan pada keterkaitan erat dengan aktivitas ekonomi nyata dan produktif. Dengan fondasi ini, sistem tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga mendorong terciptanya aktivitas ekonomi yang lebih adil dan transparan bagi masyarakat," jelasnya.

Nilai-nilai tersebut, menurutnya, sangat sejalan dengan tren global sustainable finance dan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang kini menjadi perhatian utama institusi dunia.

Komitmen Pengembangan SDM

Sebagai lembaga yang berfokus pada pendidikan jasa keuangan, LPPI menyatakan komitmen penuhnya untuk memperkuat ekosistem melalui peningkatan kapasitas manusia.

"LPPI memiliki komitmen untuk terus berkontribusi dalam penguatan kapasitas sumber daya manusia dan pengembangan pemikiran strategis di sektor keuangan. Melalui program pendidikan, riset, dan seminar ini, kami berharap dapat menjadi bagian dari upaya mendorong pertumbuhan industri yang lebih inklusif," pungkas Heru.

Seminar ini menyoroti fenomena “Hijrah Finansial”, di mana nasabah mulai beralih ke sistem keuangan yang mengedepankan etika, transparansi, dan keterkaitan dengan sektor riil. Tiga narasumber utama dari berbagai lini industri juga memaparkan strategi penguatan pasar.

John Kosasih (Wapresdir BCA) mengulas urgensi re-branding perbankan syariah agar lebih kompetitif sebagai solusi keuangan modern bagi seluruh lapisan masyarakat. Anton Sukarna (Direktur BSI) dalam paparannya fokus pada aspek inklusi dalam aksi, termasuk kemudahan akses dan jaminan keamanan transaksi digital yang menjadi tuntutan nasabah saat ini. Kemudian Dima Djani (Group CEO ALAMI & Hijra Bank), membedah peran BPRS dan fintech syariah sebagai ujung tombak pemberdayaan ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput.

Virtual seminar LPPI yang dihadiri lebih dari 700 peserta ini didukung oleh Bank BCA, Bank BSI dan Bank NTB Syariah. ***

Berita Lainnya

LPPI Buka SESPIBANK® 82 di Tengah Volatilitas Global, Dorong Kepemimpinan ‘Strategic Foresight’
13 April 2026 15:36
Corporate Social Responsibility (CSR) Pelatihan Manajemen Keuangan Masjid
11 Maret 2026 13:45
Penutupan Program PINCAB 208 dan PINCAB Syariah 29
26 Februari 2026 14:51
Program Pincab Angkatan ke-208 dan Pincab Syariah Angkatan ke-29
21 Januari 2026 15:46
Pembukaan Program Middle Manager Development Bank Kalsel
21 Januari 2026 15:42